Minggu, 23 Oktober 2011
Al Habib Muhammad bin Husein Alaydrus (Habib Neon), Surabaya
Al Habib Muhammad bin Husein Alaydrus (Habib Neon), Surabaya
Ulama yang Berjuluk Habib Neon
Dia salah seorang ulama yang menjadi penerang umat di zamannya. Cahaya keilmuan dan ahlaqnya menjadi teladan bagi mereka yang mengikuti jejak ulama salaf
...
Suatu malam, beberapa tahun lalu, ketika ribuan jamaah tengah mengikuti taklim di sebuah masjid di Surabaya, tiba-tiba listrik padam. Tentu saja kontan mereka risau, heboh. Mereka satu persatu keluar, apalagi malam itu bulan tengah purnama. Ketika itulah dari kejauhan tampak seseorang berjalan menuju masjid. Ia mengenakan gamis dan sorban putih, berselempang kain rida warna hijau. Dia adalah Habib Muhammad bin Husein bin Zainal Abidin bin Ahmad Alaydrus yang ketika lahir ia diberi nama Muhammad Masyhur.
Begitu masuk ke dalam masjid, aneh bin ajaib, mendadak masjid terang benderang seolah ada lampu neon yang menyala. Padahal, Habib Muhammad tidak membawa obor atau lampu. Para jamaah terheran-heran. Apa yang terjadi? Setelah diperhatikan, ternyata cahaya terang benderang itu keluar dari tubuh sang habib. Bukan main! Maka, sejak itu sang habib mendapat julukan Habib Neon …
Habib Muhammad lahir di Tarim, Hadramaut, pada 1888 M. Meski dia adalah seorang waliyullah, karamahnya tidak begitu nampak di kalangan orang awam. Hanya para ulama atau wali yang arif sajalah yang dapat mengetahui karamah Habib Neon. Sejak kecil ia mendapat pendidikan agama dari ayahandanya, Habib Husein bin Zainal Abidin Alaydrus. Menjelang dewasa ia merantau ke Singapura selama beberapa bulan kemudian hijrah ke ke Palembang, Sumatra Selatan, berguru kepada pamannya, Habib Musthafa Alaydrus, kemudian menikah dengan sepupunya, Aisyah binti Musthafa Alaydrus. Dari pernikahan itu ia dikaruniai Allah tiga anak lelaki dan seorang anak perempuan.
Tak lama kemudian ia hijrah bersama keluarganya ke Pekalongan, Jawa Tengah, mendampingi dakwah Habib Ahmad bin Tholib Al-Atthas. Beberapa waktu kemudian ia hijrah lagi, kali ini ke Surabaya. Ketika itu Surabaya terkenal sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan awliya, seperti Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya.
Selama mukim di Surabaya, Habib Muhammad suka berziarah, antara lain ke makam para wali dan ulama di Kudus, Jawa Tengah, dan Tuban, Jawa Timur. Dalam ziarah itulah, ia konon pernah bertemu secara ruhaniah dengan seorang wali kharismatik, (Alm) Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, Gresik.
Open House
Seperti halnya para wali yang lain, Habib Muhammad juga kuat dalam beribadah. Setiap waktu ia selalu gunakan untuk berdzikir dan bershalawat. Dan yang paling mengagumkan, ia tak pernah menolak untuk menghadiri undangan dari kaum fakir miskin. Segala hal yang ia bicarakan dan pikirkan selalu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran agama, dan tak pernah berbicara mengenai masalah yang tak berguna.
Ia juga sangat memperhatikan persoalan yang dihadapi oleh orang lain. Itu sebabnya, setiap jam 10 pagi hingga waktu Dhuhur, ia selalu menggelar open house untuk menmui dan menjamu para tamu dari segala penjuru, bahkan dari mancanegara. Beberapa tamunya mengaku, berbincang-bincang dengan dia sangat menyenangkan dan nyaman karena wajahnya senantiasa ceria dan jernih.
Sedangkan waktu antara Maghrib sampai Isya ia perguankan untuk menelaah kitab-kitab mengenai amal ibadah dan akhlaq kaum salaf. Dan setiap Jumat ia mengelar pembacaan Burdah bersama jamaahnya.
Ia memang sering diminta nasihat oleh warga di sekitar rumahnya, terutama dalam masalah kehidupan sehari-hari, masalah rumahtangga, dan problem-problem masyarakat lainnya. Itu semua dia terima dengan senang hati dan tangan terbuka. Dan konon, ia sudah tahu apa yang akan dikemukakan, sehingga si tamu manggut-manggut, antara heran dan puas. Apalagi jika kemudian mendapat jalan keluarnya. “Itu pula yang saya ketahui secara langsung. Beliau adalah guru saya,” tutur Habib Mustafa bin Abdullah Alaydrus, kemenakan dan menantunya, yang juga pimpinan Majelis Taklim Syamsi Syumus, Tebet Timur Dalam Raya, Jakarta Selatan.
Di antara laku mujahadah (tirakat) yang dilakukannya ialah berpuasa selama tujuh tahun, dan hanya berbuka dan bersantap sahur dengan tujuh butir korma. Bahkan pernah selama setahun ia berpuasa, dan hanya berbuka dan sahur dengan gandum yang sangat sedikit. Untuk jatah buka puasa dan sahur selama setahun itu ia hanya menyediakan gandum sebanyak lima mud saja. Dan itulah pula yang dilakukan oleh Imam Gahazali. Satu mud ialah 675 gram. ”Aku gemar menelaah kitab-kitab tasawuf. Ketika itu aku juga menguji nafsuku dengan meniru ibadah kaum salaf yang diceritakan dalam kitab-kitab salaf tersebut,” katanya.
Habib Neon wafat pada 30 Jumadil Awwal 1389 H / 22 Juni 1969 M dalam usia 71 tahun, dan jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Pegirikan, Surabaya, di samping makam paman dan mertuanya, Habib Mustafa Alaydrus, sesuai dengan wasiatnya. Setelah ia wafat, aktivitas dakwahnya dilanjutkan oleh putranya yang ketiga, Habib Syaikh bin Muhammad Alaydrus dengan membuka Majelis Burdah di Ketapang Kecil, Surabaya. Haul Habib Neon diselenggarakan setiap hari Kamis pada akhir bulan Jumadil Awal.
Pewaris Rahasia Imam Ali Zainal Abidin
Al-Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus lahir di kota Tarim Hadramaut. Kewalian dan sir beliau tidak begitu tampak di kalangan orang awam. Namun di kalangan kaum ‘arifin billah derajat dan karomah beliau sudah bukan hal yang asing lagi, karena memang beliau sendiri lebih sering bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka.
Sejak kecil habib Muhammad dididik dan diasuh secara langsung oleh ayah beliau sendiri al-’Arifbillah Habib Husein bin Zainal Abidin al-Aydrus. Setelah usianya dianggap cukup matang oleh ayahnya, beliau al-Habib Muhammad dengan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT merantau ke Singapura.
Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? (Q.S an-Nisa’:97)
Setelah merantau ke Singapura, beliau pindah ke Palembang, Sumatera Selatan. Di kota ini beliau menikah dan dikaruniai seorang putri. Dari Palembang, beliau melanjutkan perantauannya ke Pekalongan, Jawa Tengah, sebuah kota yang menjadi saksi bisu pertemuan beliau untuk pertama kalinya dengan al-Imam Quthb al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf, Gresik. Di Pekalongan jugalah beliau seringkali mendampingi Habib Ahmad bin Tholib al-Atthos.
Dari Pekalongan beliau pidah ke Surabaya tempat Habib Musthafa al-Aydrus yang tidak lain adalah pamannya tinggal. Seorang penyair, al-Hariri pernah mengatakan:
Cintailah negeri-negeri mana saja yang menyenangkan bagimu dan jadikanlah (negeri itu) tempat tinggalmu
Akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di Surabaya, yang waktu itu terkenal di kalangan masyarakat Hadramaut sebagai tempat berkumpulnya para auliaillah. Di antaranya adalah Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdor, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya dan masih banyak lagi para habaib yang mengharumkan nama kota Surabaya waktu itu. Selama menetap di Surabaya pun Habib Muhammad al-Aydrus masih suka berziarah, terutama ke kota Tuban dan Kudus selama 1-2 bulan.
Dikatakan bahwa para sayyid dari keluarga Zainal Abidin (keluarga ayah Habib Muhammad) adalah para sayyid dari Bani ‘Alawy yang terpilih dan terbaik karena mereka mewarisi asrar (rahasia-rahasia). Mulai dari ayah, kakek sampai kakek-kakek buyut beliau tampak jelas bahwa mereka mempunyai maqam di sisi Allah SWT. Mereka adalah pakar-pakar ilmu tashawuf dan adab yang telah menyelami ilmu ma’rifatullah, sehingga patut bagi kita untuk menjadikan beliau-beliau sebagai figur teladan.
Diriwayatkan dari sebuah kitab manaqib keluarga al-Habib Zainal Abidin mempunyai beberapa karangan yang kandungan isinya mampu memenuhi 10 gudang kitab-kitab ilmu ma’qul/manqul sekaligus ilmu-ilmu furu’ (cabang) maupun ushul (inti) yang ditulis berdasarkan dalil-dalil jelas yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh para pakar dan ahli (para ashlafuna ash-sholihin).
Habib Muhammad al-Aydrus adalah tipe orang yang pendiam, sedikit makan dan tidur. Setiap orang yang berziarah kepada beliau pasti merasa nyaman dan senang karena memandang wajah beliau yang ceria dengan pancaran nur (cahaya). Setiap waktu beliau gunakan untuk selalu berdzikir dan bersholawat kepada datuk beliau Rasulullah SAW. Beliau juga gemar memenuhi undangan kaum fakir miskin. Setiap pembicaraan yang keluar dari mulut beliau selalu bernilai kebenaran-kebenaran sekalipun pahit akibatnya. Tak seorangpun dari kaum muslimin yang beliau khianati, apalagi dianiaya.
Setiap hari jam 10 pagi hingga dzuhur beliau selalu menyempatkan untuk openhouse menjamu para tamu yang datang dari segala penjuru kota, bahkan ada sebagian dari mancanegara. Sedangkan waktu antara maghrib sampai isya’ beliau pergunakan untuk menelaah kitab-kitab yang menceritakan perjalanan kaum salaf. Setiap malam Jum’at beliau mengadakan pembacaan Burdah bersama para jamaahnya.
Beliau al-Habib Muhammad al-Aydrus adalah pewaris karateristik Imam Ali Zainal Abidin yang haliyah-nya agung dan sangat mulia. Beliau juga memiliki maqam tinggi yang jarang diwariskan kepada generasi-generasi penerusnya. Dalam hal ini al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad telah menyifati mereka dalam untaian syairnya:
_Mereka tetap dalam jejak Nabi dan sahabat-sahabatnya
Juga para tabi’in. Maka tanyakan kepadanya dan ikutilah jejaknya_
_Mereka menelusuri jalan menuju kemulyaan dan ketinggian
Setapak demi setapak (mereka telusuri) dengan kegigihan dan kesungguhan_
Diantara mujahadah beliau r.a, selama 7 tahun berpuasa dan tidak berbuka kecuali hanya dengan 7 butir kurma. Pernah juga beliau selama 1 tahun tidak makan kecuali 5 mud saja. Beliau pernah berkata, “Di masa permulaan aku gemar menelaah kitab-kitab tasawuf. Aku juga senantiasa menguji nafsuku ini dengan meniru perjuangan mereka (kaum salaf) yang tersurat dalam kitab-kitab itu”.
Habib Salim bin Jindan, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan
Habib Salim bin Jindan, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan
Ulama habaib Jakarta ini menguasai beberapa ilmu agama. Banyak ulama dan habaib berguru kepadanya. Koleksi kitabnya berjumlah ratusan. Ia juga pejuang kemerdekaan. Pada periode 1940-1960, di Jakarta ada tiga habaib yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka itu: Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang), Ali bin Husein Alatas (Bungur) dan ... Habib Salim bin Jindan (Otista). Hampir semua habaib dan ulama di Jakarta berguru kepada mereka, terutama kepada Habib Salim bin Jindan – yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk yang belum dicetak.
Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906) dan wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969), nama lengkapnya Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan. Seperti lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga mendapat pendidikan agama dari ayahandanya.
Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut.
Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, seorang ahli hadits dan fuqaha, yang sat itu juga memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga rajin menghadiri beberapa majelis taklim yang digelar oleh para ulama besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar yang ia kunjungi.
Dari perjalanan taklimnya itu, akhirnya Habib Salim mampu menguasai berbagai ilmu agama, terutama hadits, tarikh dan nasab. Ia juga hafal sejumlah kitab hadits. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadits ia mendapat gelar sebagai muhaddist, dan karena menguasai ilmu sanad maka ia digelari sebagai musnid. Mengenai guru-gurunya itu, Habib Salim pernah berkata, “Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis para sahabat Rasulullah SAW dimana terdapat kekhusyukan, ketenangan dan kharisma mereka.” Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Tentang mereka, Habib Salim pernah berkata, “Cukuplah bagi kami mereka itu sebagai panutan dan suri tauladan.”
Pada 1940 ia hijrah ke Jakarta. Di sini selain membuka majelis taklim ia juga berdakwah ke berbagai daerah. Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, Habib Salim ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Itu sebabnya ia pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang maupun ketika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia seperti pada Aksi Polisionil I pada 1947 dan 1948.
Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa: dipukul, ditendang, disetrum. Namun, ia tetap tabah, pantang menyerah. Niatnya bukan hanya demi amar makruf nahi munkar, menentang kebatilan dan kemungkaran, tetapi juga demi kemerdekaan tanah airnya. Sebab, hubbul wathan minal iman – cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman.
Kembali Berdakwah
Setelah Indonesia benar-benar aman, Habib Salim sama sekali tidak mempedulikan apakah perjuangannya demi kemerdekaan tanah air itu dihargai atau tidak. Ia ikhlas berjuang, kemudian kembali membuka majelis taklim yang diberi nama Qashar Al-Wafiddin. Ia juga kembalin berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta, di beberapa daerah maupun di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kamboja.
Ketika berdakwah di daerah-daerah itulah ia mengumpulkan data-data sejarah Islam. Dengan cermat dan tekun ia kumpulkan sejarah perkembangan Islam di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Ia juga mendirikan sebuah perpustakaan bernama Al-Fakhriah.
Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam menjawab berbagai persoalan – yang kadang-kadang menjebak. Misalnya, suatu hari, ketika ia ditanya oleh seorang pendeta, “Habib, yang lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?” Maka jawab Habib Salim, “Semua orang akan menjawab, yang hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab yang mati sudah jadi bangkai.” Lalu kata pendeta itu, “Kalau begitu Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa — menurut keyakinan Habib — belum mati, masih hidup.”
“Kalau begitu berarti ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam sudah meninggal, sedang ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang,” jawab Habib Salim enteng. Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang. Ketika itu banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.
Habib Salim memang ahli berdebat dan orator ulung. Pendiriannya pun teguh. Sejak lama, jauh-jauh hari, ia sudah memperingatkan bahaya kerusakan moral akibat pornografi dan kemaksiatan. “Para wanita mestinya jangan membuka aurat mereka, karena hal ini merupakan penyakit yang disebut tabarruj, atau memamerkan aurat, yang bisa menyebar ke seluruh rumah kaum muslimin,” kata Habib Salim kala itu.
Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Iring-iringan para pelayat begitu panjang sampai ke Condet. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Alhawi, Condet, Jakarta Timur.
Almarhum meninggalkan dua putera, Habib Shalahudin dan Habib Novel yang juga sudah menyusul ayahandanya. Namun, dakwah mereka tetap diteruskan oleh anak keturunan mereka. Mereka, misalnya, membuka majelis taklim dan menggelar maulid (termasuk haul Habib Salim) di rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto Iskandar Dinata.
Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fachriyyah, diresmikan sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib Novel bin Salim di Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin Salim – dua putra almarhum Habib Novel. “Sekarang ini sulit mendapatkan seorang ulama seperti jid (kakek) kami. Meski begitu, kami tetap mewarisi semangatnya dalam berdakwah di daerah-daerah yang sulit dijangkau,” kata Habib Ahmad, cucu Habib Salim bin Jindan.
Ada sebuah nasihat almarhum Habib Salim bin Jindan yang sampai sekarang tetap diingat oleh keturunan dan para jemaahnya, ialah pentingnya menjaga akhlak keluarga. “Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah (perantara) dalam menuntun anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu lebih berpengaruh pada anak-anak dibanding nasehat orang lain.”
Disarikan dari Manakib Habib Salim bin Jindan karya Habi b Ahmad bin Novel bin Salim
Rabu, 19 Oktober 2011
Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus (Habib Kramat Luar Batang)
Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus
dilahirkan di Yaman Selatan, tepatnya di daerah Hadhramaut, tiga abad
yang silam. Ia dilahirkan sebagai anak yatim, yang dibesarkan oleh
seorang ibu dimana sehari-harinya hidup dari hasil memintal benang pada
perusahaan tenun tradisional. Husein kecil sungguh hidup dalam
kesederhanaan.
Setelah memasuki usia belia, sang ibu menitipkan Habib Husein pada
seorang “Alim Shufi”. Disanalah ia menerima tempaan pembelajaran
thariqah. Di tengah-tengah kehidupan di antara murid-murid yang lain,
tampak Habib Husein memiliki perilaku dan sifat-sifat yang lebih dari
teman-temannya.
Kini, Al Habib Husein telah menginjak usia dewasa. Setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensiarkan islam ke belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut Habib Husein tidak kekurangan akal, ia bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang melakukan jual-beli di pasar pada setiap hari Jum’at.
Kini, Al Habib Husein telah menginjak usia dewasa. Setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensiarkan islam ke belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut Habib Husein tidak kekurangan akal, ia bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang melakukan jual-beli di pasar pada setiap hari Jum’at.
Setelah dipastikan mendapatkan tumpangan dari salah seorang kafilah
yang hendak bertolak ke India, maka Habib Husein segera menghampiri
ibunya untuk meminta ijin.
Walau dengan berat hati, seorang ibu harus melepaskan dan merelakan
kepergian puteranya. Habib Husein mencoba membesarkan hati ibunya sambil
berkata : “janganlah takut dan berkecil hati, apapun akan ku hadapi,
senantiasa bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya ia bersama kita.”
Akhirnya berangkatlah Al Habib Husein menuju daratan India.
Sampailah Al Habib Husein di sebuah kota bernama “Surati” atau lebih
dikenal kota Gujarat, sedangkan penduduknya beragama Budha. Mulailah
Habib Husein mensi’arkan Islam dikota tersebut dan kota-kota sekitarnya.
Kedatangan Habib Husein di kota tersebut membawa Rahmatan Lil-Alamin.
Karena daerah yang asalnya kering dan tandus, kemudian dengan kebesaran
Allah maka berubah menjadi daerah yang subur. Agama Islam pun tumbuh
berkembang.
Hingga kini belum ditemukan sumber yang pasti berapa lama Habib
Husein bermukim di India. Tidak lama kemudian ia melanjutkan misi
hijrahnya menuju wilayah Asia Tenggara, hingga sampai di pulau Jawa, dan
menetap di kota Batavia, sebutan kota Jakarta tempo dulu.
Batavia adalah pusat pemerintahan Belanda, dan pelabuhannya adalah
Sunda Kelapa. Maka tidak heran kalau pelabuhan itu dikenal sebagai
pelabuhan yang teramai dan terbesar di jamannya. Pada tahun 1736 M
datanglah Al-Habib Husein bersama para pedagang dari Gujarat di
pelabuhan Sunda Kelapa.
Disinilah tempat persinggahan terakhir dalam mensyiarkan Islam.
Beliau mendirikan Surau sebagai pusat pengembangan ajaran Islam. Ia
banyak di kunjungi bukan saja dari daerah sekitarnya, melainkan juga
datang dari berbagai daerah untuk belajar Islam atau banyak juga yang
datang untuk di do’akan.
Pesatnya pertumbuhan dan minat orang yang datang untuk belajar agama
Islam ke Habib Husein mengundang kesinisan dari pemerintah VOC, yang di
pandang akan menggangu ketertiban dan keamanan. Akhirnya Habib Husein
beserta beberapa pengikut utamanya di jatuhi hukuman, dan ditahan di
penjara Glodok.
Istilah karomah secara estimologi dalam bahasa arab berarti mulia,
sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (terbitan balai pustaka,
Jakarta 1995, hal 483) menyebutkan karomah dengan keramat, diartikan
suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena
ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam ajaran Islam karomah di maksudkan sebagai khariqun lil adat
yang berarti kejadian luar biasa pada seseorang wali Allah. Karomah
merupakan tanda-tanda kebenaran sikap dan tingkah laku seseorang, yang
merupakan anugrah Allah karena ketakwaannya, berikut ini terdapat
beberapa karomah yang dimiliki oleh Al Habib Husein bin Abu Bakar
Alaydrus atau yang kita kenal Habib Luar Batang, seorang wali Allah yang
lahir di Jasirah Arab dan telah ditakdirkan wafat di Pulau Jawa,
tepatnya di Jakarta Utara.
1. Menjadi mesin pemintal
Di masa belia, ditanah kelahirannya yaitu di daerah Hadhramaut –
Yaman Selatan, Habib Husein berguru pada seorang Alim Shufi. Di
hari-hari libur ia pulang untuk menyambang ibunya.
Pada suatu malam ketika ia berada di rumahnya, ibu Habib Husein
meminta tolong agar ia bersedia membantu mengerjakan pintalan benang
yang ada di gudang. Habib Husein segera menyanggupi, dan ia segera ke
gudang untuk mengerjakan apa yang di perintahkan oleh ibunya. Makan
malam juga telah disediakan. Menjelang pagi hari, ibu Husein membuka
pintu gudang. Ia sangat heran karena makanan yang disediakan masih utuh
belum dimakan husein. Selanjutnya ia sangat kaget melihat hasil pintalan
benang begitu banyaknya. Si ibu tercengang melihat kejadian ini. Dalam
benaknya terpikir bagaimana mungkin hasil pemintalan benang yang
seharusnya dikerjakan dalam beberapa hari, malah hanya dikerjakan kurang
dari semalam, padahal Habib Husein dijumpai dalam keadaan tidur pulas
disudut gudang.
Kejadian ini oleh ibunya diceritakan kepada guru thariqah yang
membimbing Habib Husein. Mendengar cerita itu maka ia bertakbir sambil
berucap : “ sungguh Allah berkehendak pada anakmu, untuk di perolehnya
derajat yang besar disisi-Nya, hendaklah ibu berbesar hati dan jangan
bertindak keras kepadanya, rahasiakanlah segala sesuatu yang terjadi
pada anakmu.”
2. Menyuburkan Kota Gujarat
Hijrah pertama yang di singgahi oleh Habib Husein adalah di daratan
India, tepatnya di kota Surati atau lebih dikenal Gujarat. Kehidupan
kota tersebut bagaikan kota mati karena dilanda kekeringan dan wabah
kolera.
Kedatangan Habib Husein di kota tersebut di sambut oleh ketua adat
setempat, kemudian ia dibawa kepada kepala wilayah serta beberapa
penasehat para normal, dan Habib Husein di perkenalkan sebagai titisan
Dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu dari bencana.
Habib Husein menyangupi bahwa dengan pertolongan Allah, ia akan
merubah negeri ini menjadi sebuah negeri yang subur, asal dengan syarat
mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai
agamanya. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong
warga di kota itu belajar agama Islam.
Akhirnya mereka di perintahkan untuk membangun sumur dan sebuah
kolam. Setelah pembangunan keduanya di selesaikan, maka dengan kekuasaan
Allah turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang
tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur.
Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh, dengan cara
mandi di kolam buatan tersebut. Dengan demikian kota yang dahulunya
mati, kini secara berangsur-angsur kehidupan masyarakatnya menjadi
sejahtera.
3. Mengislamkan tawanan
Setelah tatanan kehidupan masyarakat Gujarat berubah dari kehidupan
yang kekeringan dan hidup miskin menjadi subur serta masyarakatnya hidup
sejahtera, maka Habib Husein melanjutkan hijrahnya ke daratan Asia
Tenggara untuk tetap mensiarkan Islam. Beliau menuju pulau Jawa, dan
akhirnya menetap di Batavia. Pada masa itu hidup dalam jajahan
pemerintahan VOC Belanda.
Pada suatu malam Habib Husein dikejutkan oleh kedatangan seorang yang
berlari padanya karena di kejar oleh tentara VOC. Dengan pakaian basah
kuyub ia meminta perlindungan karena akan dikenakan hukuman mati. Ia
adalah tawanan dari sebuah kapal dagang Tionghoa.
Keesokan harinya datanglah pasukan tentara berkuda VOC ke rumah Habib
Husein untuk menangkap tawanan yang dikejarnya. Beliau tetap melindungi
tawanan tersebut, sambil berkata : “Aku akan melindungi tawanan ini dan
aku adalah jaminannya.”
Rupanya ucapan tersebut sangat di dengar oleh pasukan VOC. Semua
menundukkan kepala dan akhirnya pergi, sedangkan tawanan Tionghoa itu
sangat berterima kasih, sehingga akhirnya ia memeluk Islam.
4. Menjadi Imam di Penjara
Dalam masa sekejab telah banyak orang yang datang untuk belajar agama
Islam. Rumah Habib Husein banyak dikunjungi para muridnya dan
masyarakat luas. Hilir mudiknya umat yang datang membuat penguasa VOC
menjadi khawatir akan menggangu keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta
beberapa pengikut utamanya ditangkap dan di masukan ke penjara Glodok.
Bangunan penjara itu juga dikenal dengan sebutan “Seksi Dua.”
Rupanya dalam tahanan Habib Husein ditempatkan dalam kamar terpisah
dan ruangan yang sempit, sedangkan pengikutnya ditempatkan di ruangan
yang besar bersama tahanan yang lain.
Polisi penjara dibuat terheran-heran karena ditengah malam melihat
Habib Husein menjadi imam di ruangan yang besar, memimpin shalat
bersama-sama para pengikutnya. Hingga menjelang subuh masyarakat di luar
pun ikut bermakmum. Akan tetapi anehnya dalam waktu yang bersamaan pula
polisi penjara tersebut melihat Habib Husein tidur nyenyak di kamar
ruangan yang sempit itu, dalam keadaan tetap terkunci.
Kejadian tersebut berkembang menjadi buah bibir dikalangan
pemerintahan VOC. Dengan segala pertimbangan akhirnya pemerintah Belanda
meminta maaf atas penahanan tersebut, Habib Husein beserta semua
pengikutnya dibebaskan dari tahanan.
5. Si Sinyo menjadi Gubernur
Pada suatu hari Habib Husein dengan ditemani oleh seorang mualaf
Tionghoa yang telah berubah nama Abdul Kadir duduk berteduh di daerah
Gambir. Disaat mereka beristirahat lewatlah seorang Sinyo (anak Belanda)
dan mendekat ke Habib Husein. Dengan seketika Habib Husein menghentakan
tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si Sinyo kaget dan berlari ke
arah pembantunya.
Dengan cepat Habib Husein meminta temannya untuk menghampiri pembantu
anak Belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada
majikannya, bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang pembesar di
negeri ini.
Seiring berjalannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah
tinggi di negeri Belanda. Kemudian setelah lulus ia di percaya di angkat
menjadi Gubernur Batavia.
6. Cara Berkirim Uang
Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib
Husein bahwa kelak akan menjadi orang besar di negeri ini, ternyata
memang benar adanya. Rupanya Gubernur muda itu menerima wasiat dari
ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Di wasiatkan kalau memang apa
yang dikatakan Habib Husein menjadi kenyataan diminta agar ia membalas
budi dan jangan melupakan jasa Habib Husein.
Akhirnya Gubernur Batavia menghadiahkan beberapa karung uang kepada
Habib Husein. Uang itu diterimanya, tetapi dibuangnya ke laut. Demikian
pula setiap pemberian uang berikutnya, Habib Husein selalu menerimanya,
tetapi juga dibuangnya ke laut. Gubernur yang memberi uang menjadi
penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemberiannya selalu di
buang ke laut. Dijawabnya oleh Habib Husein bahwa uang tersebut
dikirimkan untuk ibunya ke Yaman.
Gubernur itu dibuatnya penasaran, akhirnya diperintahkan penyelam
untuk mencari karung uang yang di buang ke laut, walhasil tak satu
keeping uang pun diketemukan. Selanjutnya Gubernur Batavia tetap
berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut, maka ia
mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan
kepada ibu Habib Husein.
Sekembalinya dari Yaman, ajudan Gubernur tersebut melaporkan bahwa
benar adanya. Ibu Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang di
buang ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.
7. Kampung Luar Batang
Gubernur
Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husein. Ia menanyakan apa
keinginan Habib Husein. Jawabnya : “Saya tidak mengharapkan apapun dari
tuan.” Akan tetapi Gubernur itu sangat bijak, dihadiahkanlah sebidang
tanah di kampung baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang
terakhir.
Habib Husein telah di panggil dalam usia muda, ketika berumur kurang
lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari kamis tanggal 17 Ramadhan 1169
atau bertepatan tanggal 27 Juni 1756 M. sesuai dengan peraturan pada
masa itu bahwa setiap orang asing harus di kuburkan di pemakaman khusus
yang terletak di Tanah Abang.
Sebagai mana layaknya, jenasah Habib Husein di usung dengan kurung
batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan jenasa Habib Husein
tidak ada dalam kurung batang. Anehnya jenasah Habib Husein kembali
berada di tempat tinggal semula. Dalam bahasa lain jenasah Habib Husein
keluar dari kurung batang, pengantar jenasah mencoba kembali mengusung
jenasah Habib Husein ke pekuburan yang dimaksud, namun demikian jenasah
Habib Husein tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula.
Akhirnya para pengantar jenasah memahami dan bersepakat untuk
memakamkan jenasa Habib Husein di tempat yang merupakan tempat rumah
tinggalnya sendiri. Kemudian orang menyebutnya “Kampung Baru Luar
Batang” dan kini dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”
Catatan :
Pengalaman masa lampau, tersiar khabar bahwa Al-Habib Husein membuang
sejumlah uang ke laut di daerah “Pasar Ikan”. Tidak henti-hentinya para
pengunjung menyelami tempat itu. Dengan bukti nyata, mereka
mendapatkannya, sedangkan pada waktu itu, untuk dapat bekerja masih
sukar di peroleh. Satu-satunya mata pencaharian yang mudah dikerjakan
ialah, menyelam di laut. Dengan demikian, bangkitlah keramaian dikawasan
kota tersebut, sehingga timbullah istilah “Mencari Duit ke Kota”
Penutup
1. Perayaan-perayaan tahunan di Makam Keramat Luar Batang.
a. Perayaan/peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, pada minggu terakhir di bulan Rabi’ul Awwal.
b. Perayaan/peringatan haulnya Al-Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus Keramat Luar Batang pada minggu terakhir di bulan Syawal.
c. Perayaan “akhir ziarah” pada bulan Sya’ban, yaitu pada 3 (tiga) hari atau 7 (tujuh) hari menjelang bulan suci Ramadhan.
2. Sumber Riwayat ini di peroleh dari :
a. Nara Sumber, sesepuh keluarga Al-Habib Husein bin Abu Bakar
Alaydrus ialah Almarhumah Syarifah Muznah binti Husein Alaydus, kakak
kandung Al-Habib Abu Bakar bin Husein Alaydrus, diceritakan kembali oleh
penulis, semoga Allah SWT memberikan rahmat dan Maghfirah-Nya….Amiin.
b. Diktat sejarah Kampung Luar Batang, oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta/Dinas Museum dan Sejarah, 1982/1983.
Ulama Sodoqun dan Ulama Solihun
Ada dua kelompok ulama. Ada as sodiqun mislu rusul ada as solihun.
Maksud mitslu Rusul itu dalam pengertian as Sodikun adalah ulama yang
oleh Allah dikuatkan dengan karamat yang dzahir sebagaimana para Rasul
yang dikuatkan oleh Allah dengan mu’jizat. Seperti ada orang yang mau
beriman berkata; tandanya anda rusul apa, saya mau buktinya, saya minta
mu’jizatnya. Nah rasul di sini wajib menunjukkan mu’jizatnya.
Demikian pula auliya’-auliya’ itu. Seperti Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. Beliau ditanya apa buktinya kalau Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati. Syekh Abdul Qodir al Jaelani menjawab, ‘Terlalu tinggi kalau Nabi saya. Bagaimana dengan Nabimu?’ Orang yang bertanya berkata, “Nabiku bisa menghidupkan orang yang telah mati.” “Caranya bagaimana?,” lanjut Syekh Abdul Qadir. “Nabiku mengatakan, ‘Qum bi idzinillah,’ hiduplah dengan seijin Allah,” jawab orang itu. “Oke carikan saya orang mati,” pinta Syekh Abdul Qadir.
Syekh Abdul Qodir al Jaelani langsung meng¬hidupkan orang mati itu dengan berkata; ‘Qum Bi Idzni,’ hidup¬lah dengan seijinku. Jangankan Nabi-ku, aku saja bisa. Nabi terlalu tinggi, kata Syekh Abdul Qodir al Jaelani. ‘Qum bi idzni”, bukan bi idznillah lagi karena apa, untuk melemahkan orang yang meremeh¬kan Nabi, atau yang tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW. Syekh Abdul Qadir Al Jailani tidak memakai kata-kata ‘Bi Idznillah’, tapi ‘Qum Bi Idzni’ hakikatnya Syekh Abdul Qodir al Jaelani tetap memohon kepada Allah SWT. Seperti juga karomah Habib Umar bin Thoha Indaramayu waktu bertandang ke Sultan Alaudin, Palembang. Dan seperti Al Habib Alwi bin Hasyim bisa menghidupkan orang mati, tentu saja atas seijin dan kuasa Allah SWT.
Para ulama dan para auliya’ menolong kepercayaan kita atas kebenaran yang dibawa Al Quran; seperti bagaimana ashabul kafi. Ashabul kahfi bukan rasul, mereka adalah wali. mereka tidur sampai 360 tahun. Bayangkan saja. Terus karamat Juraij, karamat Luqmanul Hakim dan banyak lagi yang dicaritakan al Al Quran. Seperti juga Nabi Allah Sulaiman. Dikisahkan dalam al Qur’an beliau bisa berbicara dengan burung.
Wali Allah di Indonesia pun ada yang bisa berbicara bahasa hewan, seperti Mbah Adam dari Krapyak, Pekalongan. Auliya-auliya kita itu dulu begitu. Banyak lagi cerita auliya-auliya ulama-ulama di Indonesia. Ulama Jawa yang karamatnya luar biasa, seperti Mbah Sholeh Semarang, Mbah Kholil Bangkalan, banyak kalau kita ceritakan. Akhirnya dengan adanya yang demikian, kita percanya mantap dengan apa yang disebutkan oleh Al Quran;
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS: Yunus:62) Dari perilaku, sikap, dan karamat-karamat mereka kita tahu juga bagaimana gambaran dari;
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS: Fathir: 28). Kita sudah tidak heran lagi kanapa yang disebut dalam ayat itu adalah ulama. Nah itulah hebatnya auliya-auliya terdahulu, luar biasa, mem¬punyai karamat yang top-top. Banyak lagi kalau diceritakan. Dan kita akan menemukan auliya-auliya yang ada di Indonesia ini luar biasa-luar biasa karamat¬nya. Nah tujuan dari semua ini adalah menolong kita, yang awalnya kepercayaan terhadap sahabat sangat tipis, suudzon, berburuk sangka dan sebagainya, ditolong oleh para ulama dan para wali-wali Allah SWT.
Kembali kepada para sahabat Nabi. Sahabat Nabi adalah orang atau generasi pertama yang menerima tongkat estafet dan mewarisi apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Ada banyak hal yang membuat saya kagum ketika saya ber¬bicara tentang keutamaan para sahabat Nabi itu.
Di antaranya saja; kehebatan dan kuatnya keimanan mereka. Saya tidak akan menyebut¬kan yang lain-lain, kita tidak sampai. Dalam istilah jawa itu; kali sak dodo. Sekarang kita lihat bagaimana banyaknya tafsir-tafsir yang menjelaskan maksud Al Qur’an ada ribuan bahkan mungkin jutaan. Satu judul tafsir saja ada yang 50 jilid, 60 jilid. Seperti At Thabari, Fakhru Razi, atau juga yang baru-baru seperti tafsir Syekh Thanthawi. Banyak sekali. Belum lagi yang mem¬bahas fiqih, tauhid dan lain-lain.
Semenatara pada jaman sahabat dulu tidak ada kitab yang menumpuk seperti saat ini. Jangankan kitab, menulis pun tidak, karena banyak di antara mereka yang umiy’; tidak bisa baca-tulis. Begitu ada wahyu disampaikan oleh Rasulullah SAW pada sahabat, dihapal¬kan, dan mereka langsung hapal, langsung percaya, langsung yakin.
Ilmu mereka adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Baik berupa wahyu atau hadits yang disampaikan oleh Rasullah. Tapi dengan kesederhanaan itu dapat menghasilkan satu keyakinan yang luar biasa yang terpatri dalam hati mereka. Keyakinan yang hebat itu mewarnai dalam ijtihadnya dalam mujahadahnya dan sebagainya. Banyak hadits yang menceritrakan bagaimana kekuatan dan kehebatan keimanan mereka yang luar biasa, bagaimana kecintaan mereka kapada Rasulullah, juga bagaimana kecintaan mereka kepada satu sama lain diantara para sahabat, kecintaan sahabat kepada ahlu bait-nya Rasulullah SAW.
Contohnya sahabat Bilal, bagaimana kecintaan beliau kepada Rasulullah. Pada waktu Rasulullah meninggal, langsung sahabat Bilal mengundurkan diri sebagai muadzin, sebab tidak sampai hati beliau mendengungkan kalimat Allahu akbar. Biasanya dilihat oleh Rasulullah dan sahabat lainnya, sementara pada saat itu Rasul telah mangkat. Sehingga bagaimana mungkin beliau bisa mengeluar¬kan suara sementara Rasulullah SAW yang selalu mendengar adzannya sudah tidak ada. Ketika mau adzan suaranya tidak mau keluar suaranya hilang. Karena apa? Sayidina Bilal Shock, karena mahabbah, kecintaan yang luar biasa kepada Rasulullah SAW. Sahabat Bilal bungkam, diam di Madinah sampai Rasulullah dimakamkan. Setelah Rasulullah SAW dimakamkan sahabat Bilal tidak betah. Lalu sahabat Bilal pindah ke Syam (Syiria).
Di Syam tadinya sahabat Bilal membayangkan akan mendapatkan sedikit ketenangan, tapi malah sebaliknya yang terjadi, terbayang wajahnya Rasulullah di mukanya terus, ahirnya ditemui oleh Rasulullah dalam mimpi. Ditanya oleh Rasulullah, ‘Bilal mengapa engkau tinggal ditempat yang jauh betul dari Aku, katanya engkau ingin dekat dengan Aku, mengapa kamu pundah ke Syam?’ Langsung hari itu juga Sahabat Bilal pulang ke Madinah Al Munawroh, begitu sahabat Bilal ziarah ke makam Rasulullah, Sayidina Abu Bakar mendengar Sayidina Umar mendengar, mereka langsung menemui sahabat Bilal. Dan ziarah bersama. Sayidina Abu Bakar menangis. ‘Hai Bilal kapan datang?’ Tanya Khalifah Abu Bakar.
Mereka menangis rangkul-rangkulan. Kemudain Sahabat Abu Bakar meminta sayidina Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan di Madinah; ‘tolong dengung¬kan kembali adzanmu sebagaimana zaman Rasulullah.’ ‘Mulutku tidak bisa di buka,’ jawab Sayidina Bilal. Sayidina Umar yang juga meminta ke¬sediaan sahabat Bilal mendapat jawaban yang sama.
Akhirnya di sana ada 2 anak. Yang satu umurnya 9 tahun, yang satu umurnya 8 tahun, siapa mereka? Mereka adalah Imam Hasan dan Husain; dua orang cucu Nabi. Imam hasan dan Husain datang kepada Sahabat Bilal, begitu sahabat Bilal tahu, langsung menjemput kedatangan Imam Hasan dan Imam Husain. langsung dirangkul, begitu mencium kedua cucu Nabi, tambah sedih lagi sahabat Bilal, beliau kembali menangis. Karena apa? Keringat kedua anak ini tadi seperti keringat datuknya; baginda Nabi SAW. Luar biasa.
Akhirnya dua orang ini berbicara. ‘Ya Bilal’ kata Sayidina Hasan yang saat itu ditemani adiknya; Imam Husain; ‘Tolong kumandangkan kembali adzan, sebagaimana engkau lakukan pada zaman datukku baginda Rasulullah SAW’. Dari situlah sahabat Bilal luluh. ‘Kalau yang memerintah adalah dua anak ini, mana mungkin aku bisa menolak. Karena ini adalah sempalan dari darah daging Rasulullah SAW. Kalau saya menolak, nanti di akherat bagaimana bertemu dengan baginda Rasul SAW,’ pikir sahabat Bilal.
Kemudian sahabat Bilal naik ke menara menunaikan adzan, ketika sahabat Bilal adzan seluruh penduduk Madinah, tidak anak kecilnya, tidak orang dewasanya, semua keluar dari rumahnya masing-masing sambil mengatakan Rasulullah hidup kembali-Rasulullah hidup kembali. Karena apa, mendengar suaranya Bilal. Sebab ketika sahabat Bilal adzan selalu selalu pas dengan baginda Rasulullah SAW. Mereka semua keluar berduyun duyun mendengar suaranya Bilal ra.
Demikian pula auliya’-auliya’ itu. Seperti Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. Beliau ditanya apa buktinya kalau Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati. Syekh Abdul Qodir al Jaelani menjawab, ‘Terlalu tinggi kalau Nabi saya. Bagaimana dengan Nabimu?’ Orang yang bertanya berkata, “Nabiku bisa menghidupkan orang yang telah mati.” “Caranya bagaimana?,” lanjut Syekh Abdul Qadir. “Nabiku mengatakan, ‘Qum bi idzinillah,’ hiduplah dengan seijin Allah,” jawab orang itu. “Oke carikan saya orang mati,” pinta Syekh Abdul Qadir.
Syekh Abdul Qodir al Jaelani langsung meng¬hidupkan orang mati itu dengan berkata; ‘Qum Bi Idzni,’ hidup¬lah dengan seijinku. Jangankan Nabi-ku, aku saja bisa. Nabi terlalu tinggi, kata Syekh Abdul Qodir al Jaelani. ‘Qum bi idzni”, bukan bi idznillah lagi karena apa, untuk melemahkan orang yang meremeh¬kan Nabi, atau yang tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW. Syekh Abdul Qadir Al Jailani tidak memakai kata-kata ‘Bi Idznillah’, tapi ‘Qum Bi Idzni’ hakikatnya Syekh Abdul Qodir al Jaelani tetap memohon kepada Allah SWT. Seperti juga karomah Habib Umar bin Thoha Indaramayu waktu bertandang ke Sultan Alaudin, Palembang. Dan seperti Al Habib Alwi bin Hasyim bisa menghidupkan orang mati, tentu saja atas seijin dan kuasa Allah SWT.
Para ulama dan para auliya’ menolong kepercayaan kita atas kebenaran yang dibawa Al Quran; seperti bagaimana ashabul kafi. Ashabul kahfi bukan rasul, mereka adalah wali. mereka tidur sampai 360 tahun. Bayangkan saja. Terus karamat Juraij, karamat Luqmanul Hakim dan banyak lagi yang dicaritakan al Al Quran. Seperti juga Nabi Allah Sulaiman. Dikisahkan dalam al Qur’an beliau bisa berbicara dengan burung.
Wali Allah di Indonesia pun ada yang bisa berbicara bahasa hewan, seperti Mbah Adam dari Krapyak, Pekalongan. Auliya-auliya kita itu dulu begitu. Banyak lagi cerita auliya-auliya ulama-ulama di Indonesia. Ulama Jawa yang karamatnya luar biasa, seperti Mbah Sholeh Semarang, Mbah Kholil Bangkalan, banyak kalau kita ceritakan. Akhirnya dengan adanya yang demikian, kita percanya mantap dengan apa yang disebutkan oleh Al Quran;
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS: Yunus:62) Dari perilaku, sikap, dan karamat-karamat mereka kita tahu juga bagaimana gambaran dari;
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS: Fathir: 28). Kita sudah tidak heran lagi kanapa yang disebut dalam ayat itu adalah ulama. Nah itulah hebatnya auliya-auliya terdahulu, luar biasa, mem¬punyai karamat yang top-top. Banyak lagi kalau diceritakan. Dan kita akan menemukan auliya-auliya yang ada di Indonesia ini luar biasa-luar biasa karamat¬nya. Nah tujuan dari semua ini adalah menolong kita, yang awalnya kepercayaan terhadap sahabat sangat tipis, suudzon, berburuk sangka dan sebagainya, ditolong oleh para ulama dan para wali-wali Allah SWT.
Kembali kepada para sahabat Nabi. Sahabat Nabi adalah orang atau generasi pertama yang menerima tongkat estafet dan mewarisi apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Ada banyak hal yang membuat saya kagum ketika saya ber¬bicara tentang keutamaan para sahabat Nabi itu.
Di antaranya saja; kehebatan dan kuatnya keimanan mereka. Saya tidak akan menyebut¬kan yang lain-lain, kita tidak sampai. Dalam istilah jawa itu; kali sak dodo. Sekarang kita lihat bagaimana banyaknya tafsir-tafsir yang menjelaskan maksud Al Qur’an ada ribuan bahkan mungkin jutaan. Satu judul tafsir saja ada yang 50 jilid, 60 jilid. Seperti At Thabari, Fakhru Razi, atau juga yang baru-baru seperti tafsir Syekh Thanthawi. Banyak sekali. Belum lagi yang mem¬bahas fiqih, tauhid dan lain-lain.
Semenatara pada jaman sahabat dulu tidak ada kitab yang menumpuk seperti saat ini. Jangankan kitab, menulis pun tidak, karena banyak di antara mereka yang umiy’; tidak bisa baca-tulis. Begitu ada wahyu disampaikan oleh Rasulullah SAW pada sahabat, dihapal¬kan, dan mereka langsung hapal, langsung percaya, langsung yakin.
Ilmu mereka adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Baik berupa wahyu atau hadits yang disampaikan oleh Rasullah. Tapi dengan kesederhanaan itu dapat menghasilkan satu keyakinan yang luar biasa yang terpatri dalam hati mereka. Keyakinan yang hebat itu mewarnai dalam ijtihadnya dalam mujahadahnya dan sebagainya. Banyak hadits yang menceritrakan bagaimana kekuatan dan kehebatan keimanan mereka yang luar biasa, bagaimana kecintaan mereka kapada Rasulullah, juga bagaimana kecintaan mereka kepada satu sama lain diantara para sahabat, kecintaan sahabat kepada ahlu bait-nya Rasulullah SAW.
Contohnya sahabat Bilal, bagaimana kecintaan beliau kepada Rasulullah. Pada waktu Rasulullah meninggal, langsung sahabat Bilal mengundurkan diri sebagai muadzin, sebab tidak sampai hati beliau mendengungkan kalimat Allahu akbar. Biasanya dilihat oleh Rasulullah dan sahabat lainnya, sementara pada saat itu Rasul telah mangkat. Sehingga bagaimana mungkin beliau bisa mengeluar¬kan suara sementara Rasulullah SAW yang selalu mendengar adzannya sudah tidak ada. Ketika mau adzan suaranya tidak mau keluar suaranya hilang. Karena apa? Sayidina Bilal Shock, karena mahabbah, kecintaan yang luar biasa kepada Rasulullah SAW. Sahabat Bilal bungkam, diam di Madinah sampai Rasulullah dimakamkan. Setelah Rasulullah SAW dimakamkan sahabat Bilal tidak betah. Lalu sahabat Bilal pindah ke Syam (Syiria).
Di Syam tadinya sahabat Bilal membayangkan akan mendapatkan sedikit ketenangan, tapi malah sebaliknya yang terjadi, terbayang wajahnya Rasulullah di mukanya terus, ahirnya ditemui oleh Rasulullah dalam mimpi. Ditanya oleh Rasulullah, ‘Bilal mengapa engkau tinggal ditempat yang jauh betul dari Aku, katanya engkau ingin dekat dengan Aku, mengapa kamu pundah ke Syam?’ Langsung hari itu juga Sahabat Bilal pulang ke Madinah Al Munawroh, begitu sahabat Bilal ziarah ke makam Rasulullah, Sayidina Abu Bakar mendengar Sayidina Umar mendengar, mereka langsung menemui sahabat Bilal. Dan ziarah bersama. Sayidina Abu Bakar menangis. ‘Hai Bilal kapan datang?’ Tanya Khalifah Abu Bakar.
Mereka menangis rangkul-rangkulan. Kemudain Sahabat Abu Bakar meminta sayidina Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan di Madinah; ‘tolong dengung¬kan kembali adzanmu sebagaimana zaman Rasulullah.’ ‘Mulutku tidak bisa di buka,’ jawab Sayidina Bilal. Sayidina Umar yang juga meminta ke¬sediaan sahabat Bilal mendapat jawaban yang sama.
Akhirnya di sana ada 2 anak. Yang satu umurnya 9 tahun, yang satu umurnya 8 tahun, siapa mereka? Mereka adalah Imam Hasan dan Husain; dua orang cucu Nabi. Imam hasan dan Husain datang kepada Sahabat Bilal, begitu sahabat Bilal tahu, langsung menjemput kedatangan Imam Hasan dan Imam Husain. langsung dirangkul, begitu mencium kedua cucu Nabi, tambah sedih lagi sahabat Bilal, beliau kembali menangis. Karena apa? Keringat kedua anak ini tadi seperti keringat datuknya; baginda Nabi SAW. Luar biasa.
Akhirnya dua orang ini berbicara. ‘Ya Bilal’ kata Sayidina Hasan yang saat itu ditemani adiknya; Imam Husain; ‘Tolong kumandangkan kembali adzan, sebagaimana engkau lakukan pada zaman datukku baginda Rasulullah SAW’. Dari situlah sahabat Bilal luluh. ‘Kalau yang memerintah adalah dua anak ini, mana mungkin aku bisa menolak. Karena ini adalah sempalan dari darah daging Rasulullah SAW. Kalau saya menolak, nanti di akherat bagaimana bertemu dengan baginda Rasul SAW,’ pikir sahabat Bilal.
Kemudian sahabat Bilal naik ke menara menunaikan adzan, ketika sahabat Bilal adzan seluruh penduduk Madinah, tidak anak kecilnya, tidak orang dewasanya, semua keluar dari rumahnya masing-masing sambil mengatakan Rasulullah hidup kembali-Rasulullah hidup kembali. Karena apa, mendengar suaranya Bilal. Sebab ketika sahabat Bilal adzan selalu selalu pas dengan baginda Rasulullah SAW. Mereka semua keluar berduyun duyun mendengar suaranya Bilal ra.
Oleh : Habib Lutfi Yahya
Senin, 17 Oktober 2011
AN NASSABAH AL WALI AL HABIB 'ALI BIN JA'FAR BIN SYECH AL FARGAS
Alangkah baiknya bila semua keluarga 'Alawiyin mengetahui akan Manaqib Al Habib 'Ali bin Ja'far bin Syech Al Fargas ini.Tiadalah orang dapat mengurus nasab sebelum mengenal siapa dan apa saja hasil maha karya Al Habib 'Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas
Al Habib 'Ali bin Ja'far bin Syech Al Fargas lah yang pertama kali mensensus kebenaran nasab para 'Alawiyyin seluruh nusantara.
Beliau adalah seorang yang menjauhkan diri dari ketenaran(khumul) yakni mengikut kebiasaan para datuk-datuknya terdahulu.Beliau adalah An Nassabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Al Alwi Abdurrahman Asseggaff.
Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Asseggaff lahir di Palembang Sumatera Selatan 22 Rabi’ul Awwal 1307 H/16 November 1889 M, beliau adalah generasi pertama yang lahir di Nusantara. Kakek/datuk dari Habib Ali adalah Al Habib Syech bin Sagaf bin Ahmad Aseggaff dikenal seorang yang ‘alim di masanya, beliau lahir pada tahun 1258 H/1842 M dan wafat 1322 H/1905 M di Seiwun Hadramaut Yaman Selatan.
Silsilah dari garis ayah :
Ali bin Ja’far bin Syech bin Sagaf bin Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi bin Ahmad Maula Maryamah bin Alwi bin Al Imam Al Qutb Abdurrahman Asseggaff bn Muhammad Mauladawilah bn Ali bn Alwi Al Qhoyyur bin Muhammad Faqih Muqaddam bn Ali bn Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholi' Qasam............ Rasulullah MUHAMMAD SAW.
Silsilah dari garis ibu :
Syarifah Futum binti Alwi b Ahmad b Alwi bin Ahmad bin Al Qutb Ali bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Abdullah bin Abubakar bin Alwi bin Ahmad bin Al Imam Al Qutb Abubakar As Sakran bin Al Imam Al Qutb Abdurrahman Asseggaff bn Muhammad Mauladawilah bn Ali bn Alwi Al Qhoyyur bin Muhammad Faqih Muqaddam bn Ali bn Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholi' Qasam dan terus bersambung kepada Baginda ROSULULLAH SAW.
Ayah dari Habib Ali adalah Al Habib Ja’far bin Syech bin Saqaf Asseggaff lahir di Sewon,beliau adalah seorang penyiar agama Islam yang berhijrah dari Sewon Hadramaut ke Palembang, kehidupan beliau sangat sederhana. Di Palembang Al Habib Ja’far bin Syech bin Sagaf ini menikah dengan As Syarifah Futum binti Alwi bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad bin Al Qutb Ali bin Abdullah Asseggaff. Dari pernikahan ini lahirlah Al Habib Abdullah dan Al Habib Ali(An Nasabah/shohibul Manaqib). Kemudian Al Habib Ja’far bin Syech Asseggaff berhijrah ke Jakarta dan menikah dengan Syarifah Rugayyah binti Abdullah bin Husin bin Abdurrahman bin Sahl Jamalullail. Dari pernikahan ini lahirlah Habib Umar dan Khadijah. Al habib Ja’far bin Syech terus melanjutkan dakwanya di Wilayah Jawa barat hingga beliau wafat di wilayah Cijeruk Sukabumi.
Kisah Dalam Menuntut Ilmu
Al Habib Ali bin Ja’far menghabiskan masa kecilnya di Palembang,menjelang remaja beliau di kirim ke Sewon tempat kelahiran ayahnya. Pada masa itu di Sewon dipenuhi bintang gemintang ulama yang memiliki keunggulan dalam bidangnya masing masing. Diantaranya adalah Al ‘Allamah Al Wali An Nassabah Mufti Hadramaut Shohibut Fatwa Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyur Syahabuddin. Al Habib Ali bin Ja’far saat itu belajar langsung dengan Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur ini. Bagi Alawiyin yang mengerti dan belajar nasab maka nama Al Habib Abdurrahman ini sangat dikenal dan menjadi satu dengan ilmu nasab. Beliaulah pengarang kitab Nasab yang merupakan panduan utama buat meneliti dan menentukan kebenaran nasab seseorang. Kitab tersebut adalah Syamsu Azh-Zhahirah,Al Habib Ali bin Ja’far dalam beberapa tahun mengkaji dan mempelajari kitab nasab tersebut secara teliti dan menyeluruh. Pada saat Al Habib Ali bin Ja’far ini pulang ke Indonesia, beliau membawa 7 Jilid Kitab Nasab yang merupakan karya dari Al Allamah An Nasabah Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Syahabuddin.
Sensus Alawiyyin Nusantara
Dengan berpijak kepada buku “Syamsu Azh-Zhahirah” ini maka An-Nasabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech bin Sagaf Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Asseggaff melanjutkan pencatatan nasab ini hingga pada generasi beliau dengan melengkapi catatan tambahan. Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Assegaf atas bantuan dari Al Habib Syech bin Ahmad bin Muhamad bin Umar bin Syahabuddin melaksanakan sensus Alawiyin dan selesai pada tanggal 18 Dzulhijjah 1358 H / 28 Januari 1940 M. Jumlah yang tercatat saat itu adalah 17.764 orang. Sensus ini dilakukan per-daerah yang memuat secara rinci data-data Alawiyin baik itu daerah, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, statusnya, Umurnya, kemampuan bahasa Arab, Indonesia atau Belanda, dihimpun dalam satu buku yang menyajikan data tersebut secara tertib dan terperinci. Buku ini cukup besar dan tebal karena menyebutkan nama satu individu hingga beberapa generasi ke atas serta dengan keterangan keterangan yang lengkap. Sebagai contoh sensus daerah Betawi,Surabaya,Palembang,
Pekalongan
dan lain lain. Dari buku buku sensus perdaerah ini selanjutnya di buat
satu buku yang hanya memuat Nama daerah,jumlah Alawiyin yang ada dan
nama qabilah qabilah yang ada di daerah tersebut. Buku ini tipis dengan
ukuran kertas yang biasa atau dengan kata lain buku ini merupakan Buku
Rekap Sensus Alawiyin.
Dari hasil sensus ini oleh An Nasabah Al Walid Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Asseggaff dihimpun dalam buku nasab sebanyak 7 Juz / jilid. Buku ini memuat dengan rinci semua alawiyin diberbagai Negara yakni Indonesia, Semenanjung Melayu, Singapora, Yaman Selatan dan Utara, Afrika,India,Oman dan lain lain. Buku Al Habib Ali bin Ja’far ini sempat ditulis ulang di Singapora, sama persis dengan yang asli hanya saja berbeda style tulisannya. Buku 7 Juz/jilid karya Habib Ali bin Ja’far ini adalah kelanjutan dari buku 7 jilid karya dari Al Allamah Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Syahabuddin .Selanjutnya pada tahun 1954 didirikan Lembaga Pencatatan,Penelitian dan Pemeliharaan Nasab Alawiyin yang dinamakan “Al Maktab Ad Daimi”, yang berpusat di Jakarta. Karena peranan Al Habib Ali bin Ja’far yang sangat menguasai tentang nasab saat itu maka tidak ada orang yang pantas menduduki jabatan ini kecuali beliau,beliaulah yang diangkat sebagai Ketuanya dan wakilnya adalah Habib Hasyim bin Muhammad Al Hadi bin Ahmad Al Habsyi,disamping itu juga ada 2 orang sebagai penasehat lembaga ini yaitu Habib Alwi bin Thahir Al Haddad(Mufti Johor) dan Habib Ahmad bin Abdullah As Shofie Asseggaff. Pada masa kepengurusan ini Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff menyerahkan buku 7 jilid yang beliau bawa dari Hadramaut karya Al Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Syahabuddin kepada pengurus Maktab Ad Daimi saat itu,sementara buku 7 jilid karya Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff tetap ditangan beliau.Dari 7 jilid buku nasab ini kemudian dikembangkan menjadi 16 Jilid / juz dan dibuat 4 rangkap yakni satu rangkap buat di Jakarta, satu buat Pekalongan, satu buat Surabaya dan satu buat Palembang. Buku ini dinamakan buku Induk Syajarah Nasab Alawiyin yang saat ini dijadikan sebagai buku rujukan dalam pencatatan dan penelitian untuk menentukan kebenaran nasab setiap individu Alawiyin.
Mundur Dari Maktab Daimi
Pada tanggal 30 November 1956,Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff mengundurkan diri sebagai ketua di Maktab Ad Daimi. Namun demikian karena nasab ini sudah menyatu pada jiwanya maka beliau tetap mengadakan perjalanan ke berbagai tempat untuk mencatat dan meneliti nasab Alawiyin. Buku karya beliau ini selalu beliau bawa dalam penelitian di berbagai tempat. Dalam buku ini beliau mencatat hampir semua Alawiyin yang ada di seluruh Indonesia, Malaysia, Singapora, India, Afrika, Hadramaut, Turki dan Jazirah Arab lainnya.Buku 7 jilid ini semuanya berjumlah hampir 2000 halaman,selain buku ini beliau juga membuat catatan catatan dalam lembaran yang jumlahnya tidak terhitung.
Sosok kepribadian beliau sangat bersahaja,hampir sebagian besar kehidupan beliau digunakan untuk meneliti dan mengabdi kepada penjagaan nasab. Beliau adalah satu satunya Ahli Nasab terakhir yang tak dapat ditandingi oleh siapapun dengan Maha Karyanya yang hingga sekarang di jadikan rujukan utama dalam meneliti dan melacak kebenaran nasab seseorang khususnya buat keluarga para Habaib yang berasal dari Hadramaut.
Beliau memiliki berbagai sifat-sifat leluhurnya yang berbuat hanya mengharap ke Ridhaan ALLAH semata,beliau seorang putra terbaik Alawiyin yang sangat Ikhlas dalam berbuat.Salah satu sifatnya adalah Khumul(tak mau dikenal khalayak ramai) sehingga sampai saat ini banyak sekali orang tidak mengetahui akan peranan beliau yang sangat dominan dalam pemeliharaan kerapian dan kemurnian nasab ini. Namanya beliau tenggelam tertelan oleh nama nama orang yang masyhur/terkenal ataupun tertutupi nama organisasi yang di dalamnya beliau mengabdi. Sehingga sangat wajar sekali sampai saat ini orang tidak tahu sama sekali akan semua karyanya dan kita tak akan mendapatkan gambar gambar pribadinya di rumah rumah keluarga Alawiyin sebagaimana lazimnya kita lihat gambar para habaib habaib yang lainnya. Beliau adalah satu satunya Ahli Nasab,yang pertama dan terakhir yang dimiliki oleh keluarga Alawiyin dengan karyanya yang luar biasa. Walaupun setelah beliau ada yg melanjutkan mengurus nasab namun tak ada orang yang setara dan sekelas beliau sampai kapanpun.
Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff nikah dengan Syarifah Aisyah binti Abdullah bin Abdul Ma’bud bin Khidir bin Jarjis bin Ahmad Al Kadzimie Al Musawi Al Bagdadi di Jakarta,dari perkawinan ini lahirlah : 1.Syayyid Mustofa (wafat di Jakarta 1985) keturunan beliau saat ini semaunya ada di Jakarta 2.Syarifah Maryam (masih ada sampai saat ini di Jakarta) 3.syarifah Wasilah (wafat umur 5 tahun).Beliau juga nikah dengan Syarifah Tejun bin Yahya dan memiliki anak Syarifah Raguwan dan syarifah Salwa,saat ini Syarifah Tejun bin Yahya ada di Tuban Jawa Timur.
Beliau wafat di Jakarta pada tahun 1381 H / 1962 M dan dimakamkan di pekuburan karet wakaf (sekarang jadi sekolahan Said Naum) di Tanah Abang Jakarta Pusat,kemudian makam ini dibongkar dan dipindahkan oleh Gubernur DKI ke Pekuburan Umun Karet Jakarta. Sampai saat ini makam beliau tak diketahui letak pastinya karena saat pembongkaran kuburan keluarga beliau tak diajak beruding . Inilah suatu keadaan yang sangat sedih dan memprihatinkan sekali dan yang lebih memprihatinkan lagi banyaknya orang orang yang mengurus nasab namun tidak pernah mengenal akan beliau”An Nasabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff.”Tiadalah orang dapat bersyukur kepada ALLAH sebelum dia dapat mengucapkan terima kasih kepada Mahluknya “.
Sumber Tulisan:
Manaqib An Nassabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja'far Asseggaff oleh 'Alidien Hasan Al Ali bin Abdullah Asseggaff Jakarta, November 2008
Alangkah baiknya bila semua keluarga 'Alawiyin mengetahui akan Manaqib Al Habib 'Ali bin Ja'far bin Syech Al Fargas ini.Tiadalah orang dapat mengurus nasab sebelum mengenal siapa dan apa saja hasil maha karya Al Habib 'Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas
Al Habib 'Ali bin Ja'far bin Syech Al Fargas lah yang pertama kali mensensus kebenaran nasab para 'Alawiyyin seluruh nusantara.
Beliau adalah seorang yang menjauhkan diri dari ketenaran(khumul) yakni mengikut kebiasaan para datuk-datuknya terdahulu.Beliau adalah An Nassabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Al Alwi Abdurrahman Asseggaff.
Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Asseggaff lahir di Palembang Sumatera Selatan 22 Rabi’ul Awwal 1307 H/16 November 1889 M, beliau adalah generasi pertama yang lahir di Nusantara. Kakek/datuk dari Habib Ali adalah Al Habib Syech bin Sagaf bin Ahmad Aseggaff dikenal seorang yang ‘alim di masanya, beliau lahir pada tahun 1258 H/1842 M dan wafat 1322 H/1905 M di Seiwun Hadramaut Yaman Selatan.
Silsilah dari garis ayah :
Ali bin Ja’far bin Syech bin Sagaf bin Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi bin Ahmad Maula Maryamah bin Alwi bin Al Imam Al Qutb Abdurrahman Asseggaff bn Muhammad Mauladawilah bn Ali bn Alwi Al Qhoyyur bin Muhammad Faqih Muqaddam bn Ali bn Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholi' Qasam............ Rasulullah MUHAMMAD SAW.
Silsilah dari garis ibu :
Syarifah Futum binti Alwi b Ahmad b Alwi bin Ahmad bin Al Qutb Ali bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Abdullah bin Abubakar bin Alwi bin Ahmad bin Al Imam Al Qutb Abubakar As Sakran bin Al Imam Al Qutb Abdurrahman Asseggaff bn Muhammad Mauladawilah bn Ali bn Alwi Al Qhoyyur bin Muhammad Faqih Muqaddam bn Ali bn Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholi' Qasam dan terus bersambung kepada Baginda ROSULULLAH SAW.
Ayah dari Habib Ali adalah Al Habib Ja’far bin Syech bin Saqaf Asseggaff lahir di Sewon,beliau adalah seorang penyiar agama Islam yang berhijrah dari Sewon Hadramaut ke Palembang, kehidupan beliau sangat sederhana. Di Palembang Al Habib Ja’far bin Syech bin Sagaf ini menikah dengan As Syarifah Futum binti Alwi bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad bin Al Qutb Ali bin Abdullah Asseggaff. Dari pernikahan ini lahirlah Al Habib Abdullah dan Al Habib Ali(An Nasabah/shohibul Manaqib). Kemudian Al Habib Ja’far bin Syech Asseggaff berhijrah ke Jakarta dan menikah dengan Syarifah Rugayyah binti Abdullah bin Husin bin Abdurrahman bin Sahl Jamalullail. Dari pernikahan ini lahirlah Habib Umar dan Khadijah. Al habib Ja’far bin Syech terus melanjutkan dakwanya di Wilayah Jawa barat hingga beliau wafat di wilayah Cijeruk Sukabumi.
Kisah Dalam Menuntut Ilmu
Al Habib Ali bin Ja’far menghabiskan masa kecilnya di Palembang,menjelang remaja beliau di kirim ke Sewon tempat kelahiran ayahnya. Pada masa itu di Sewon dipenuhi bintang gemintang ulama yang memiliki keunggulan dalam bidangnya masing masing. Diantaranya adalah Al ‘Allamah Al Wali An Nassabah Mufti Hadramaut Shohibut Fatwa Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyur Syahabuddin. Al Habib Ali bin Ja’far saat itu belajar langsung dengan Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur ini. Bagi Alawiyin yang mengerti dan belajar nasab maka nama Al Habib Abdurrahman ini sangat dikenal dan menjadi satu dengan ilmu nasab. Beliaulah pengarang kitab Nasab yang merupakan panduan utama buat meneliti dan menentukan kebenaran nasab seseorang. Kitab tersebut adalah Syamsu Azh-Zhahirah,Al Habib Ali bin Ja’far dalam beberapa tahun mengkaji dan mempelajari kitab nasab tersebut secara teliti dan menyeluruh. Pada saat Al Habib Ali bin Ja’far ini pulang ke Indonesia, beliau membawa 7 Jilid Kitab Nasab yang merupakan karya dari Al Allamah An Nasabah Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Syahabuddin.
Sensus Alawiyyin Nusantara
Dengan berpijak kepada buku “Syamsu Azh-Zhahirah” ini maka An-Nasabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech bin Sagaf Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Asseggaff melanjutkan pencatatan nasab ini hingga pada generasi beliau dengan melengkapi catatan tambahan. Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Assegaf atas bantuan dari Al Habib Syech bin Ahmad bin Muhamad bin Umar bin Syahabuddin melaksanakan sensus Alawiyin dan selesai pada tanggal 18 Dzulhijjah 1358 H / 28 Januari 1940 M. Jumlah yang tercatat saat itu adalah 17.764 orang. Sensus ini dilakukan per-daerah yang memuat secara rinci data-data Alawiyin baik itu daerah, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, statusnya, Umurnya, kemampuan bahasa Arab, Indonesia atau Belanda, dihimpun dalam satu buku yang menyajikan data tersebut secara tertib dan terperinci. Buku ini cukup besar dan tebal karena menyebutkan nama satu individu hingga beberapa generasi ke atas serta dengan keterangan keterangan yang lengkap. Sebagai contoh sensus daerah Betawi,Surabaya,Palembang,
Dari hasil sensus ini oleh An Nasabah Al Walid Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Asseggaff dihimpun dalam buku nasab sebanyak 7 Juz / jilid. Buku ini memuat dengan rinci semua alawiyin diberbagai Negara yakni Indonesia, Semenanjung Melayu, Singapora, Yaman Selatan dan Utara, Afrika,India,Oman dan lain lain. Buku Al Habib Ali bin Ja’far ini sempat ditulis ulang di Singapora, sama persis dengan yang asli hanya saja berbeda style tulisannya. Buku 7 Juz/jilid karya Habib Ali bin Ja’far ini adalah kelanjutan dari buku 7 jilid karya dari Al Allamah Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Syahabuddin .Selanjutnya pada tahun 1954 didirikan Lembaga Pencatatan,Penelitian dan Pemeliharaan Nasab Alawiyin yang dinamakan “Al Maktab Ad Daimi”, yang berpusat di Jakarta. Karena peranan Al Habib Ali bin Ja’far yang sangat menguasai tentang nasab saat itu maka tidak ada orang yang pantas menduduki jabatan ini kecuali beliau,beliaulah yang diangkat sebagai Ketuanya dan wakilnya adalah Habib Hasyim bin Muhammad Al Hadi bin Ahmad Al Habsyi,disamping itu juga ada 2 orang sebagai penasehat lembaga ini yaitu Habib Alwi bin Thahir Al Haddad(Mufti Johor) dan Habib Ahmad bin Abdullah As Shofie Asseggaff. Pada masa kepengurusan ini Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff menyerahkan buku 7 jilid yang beliau bawa dari Hadramaut karya Al Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Syahabuddin kepada pengurus Maktab Ad Daimi saat itu,sementara buku 7 jilid karya Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff tetap ditangan beliau.Dari 7 jilid buku nasab ini kemudian dikembangkan menjadi 16 Jilid / juz dan dibuat 4 rangkap yakni satu rangkap buat di Jakarta, satu buat Pekalongan, satu buat Surabaya dan satu buat Palembang. Buku ini dinamakan buku Induk Syajarah Nasab Alawiyin yang saat ini dijadikan sebagai buku rujukan dalam pencatatan dan penelitian untuk menentukan kebenaran nasab setiap individu Alawiyin.
Mundur Dari Maktab Daimi
Pada tanggal 30 November 1956,Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff mengundurkan diri sebagai ketua di Maktab Ad Daimi. Namun demikian karena nasab ini sudah menyatu pada jiwanya maka beliau tetap mengadakan perjalanan ke berbagai tempat untuk mencatat dan meneliti nasab Alawiyin. Buku karya beliau ini selalu beliau bawa dalam penelitian di berbagai tempat. Dalam buku ini beliau mencatat hampir semua Alawiyin yang ada di seluruh Indonesia, Malaysia, Singapora, India, Afrika, Hadramaut, Turki dan Jazirah Arab lainnya.Buku 7 jilid ini semuanya berjumlah hampir 2000 halaman,selain buku ini beliau juga membuat catatan catatan dalam lembaran yang jumlahnya tidak terhitung.
Sosok kepribadian beliau sangat bersahaja,hampir sebagian besar kehidupan beliau digunakan untuk meneliti dan mengabdi kepada penjagaan nasab. Beliau adalah satu satunya Ahli Nasab terakhir yang tak dapat ditandingi oleh siapapun dengan Maha Karyanya yang hingga sekarang di jadikan rujukan utama dalam meneliti dan melacak kebenaran nasab seseorang khususnya buat keluarga para Habaib yang berasal dari Hadramaut.
Beliau memiliki berbagai sifat-sifat leluhurnya yang berbuat hanya mengharap ke Ridhaan ALLAH semata,beliau seorang putra terbaik Alawiyin yang sangat Ikhlas dalam berbuat.Salah satu sifatnya adalah Khumul(tak mau dikenal khalayak ramai) sehingga sampai saat ini banyak sekali orang tidak mengetahui akan peranan beliau yang sangat dominan dalam pemeliharaan kerapian dan kemurnian nasab ini. Namanya beliau tenggelam tertelan oleh nama nama orang yang masyhur/terkenal ataupun tertutupi nama organisasi yang di dalamnya beliau mengabdi. Sehingga sangat wajar sekali sampai saat ini orang tidak tahu sama sekali akan semua karyanya dan kita tak akan mendapatkan gambar gambar pribadinya di rumah rumah keluarga Alawiyin sebagaimana lazimnya kita lihat gambar para habaib habaib yang lainnya. Beliau adalah satu satunya Ahli Nasab,yang pertama dan terakhir yang dimiliki oleh keluarga Alawiyin dengan karyanya yang luar biasa. Walaupun setelah beliau ada yg melanjutkan mengurus nasab namun tak ada orang yang setara dan sekelas beliau sampai kapanpun.
Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff nikah dengan Syarifah Aisyah binti Abdullah bin Abdul Ma’bud bin Khidir bin Jarjis bin Ahmad Al Kadzimie Al Musawi Al Bagdadi di Jakarta,dari perkawinan ini lahirlah : 1.Syayyid Mustofa (wafat di Jakarta 1985) keturunan beliau saat ini semaunya ada di Jakarta 2.Syarifah Maryam (masih ada sampai saat ini di Jakarta) 3.syarifah Wasilah (wafat umur 5 tahun).Beliau juga nikah dengan Syarifah Tejun bin Yahya dan memiliki anak Syarifah Raguwan dan syarifah Salwa,saat ini Syarifah Tejun bin Yahya ada di Tuban Jawa Timur.
Beliau wafat di Jakarta pada tahun 1381 H / 1962 M dan dimakamkan di pekuburan karet wakaf (sekarang jadi sekolahan Said Naum) di Tanah Abang Jakarta Pusat,kemudian makam ini dibongkar dan dipindahkan oleh Gubernur DKI ke Pekuburan Umun Karet Jakarta. Sampai saat ini makam beliau tak diketahui letak pastinya karena saat pembongkaran kuburan keluarga beliau tak diajak beruding . Inilah suatu keadaan yang sangat sedih dan memprihatinkan sekali dan yang lebih memprihatinkan lagi banyaknya orang orang yang mengurus nasab namun tidak pernah mengenal akan beliau”An Nasabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff.”Tiadalah orang dapat bersyukur kepada ALLAH sebelum dia dapat mengucapkan terima kasih kepada Mahluknya “.
Sumber Tulisan:
Manaqib An Nassabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja'far Asseggaff oleh 'Alidien Hasan Al Ali bin Abdullah Asseggaff Jakarta, November 2008
Minggu, 16 Oktober 2011
Sejarah Para Habib, Habaib Alawiyyin Di Indonesia
Sejarah Singkat Para Habib, Habaib Alawiyyin Di Indonesia.Pada zaman kekhalifahan Bani Abbas (750-1258 M) berkembanglah ilmu pengetahuan tentang Islam yang bercabang-cabang disamping kenyataan itu penghidupan lapisan atas menyimpang dari ajaran agama Islam. Dibentuknya dynasti Bani Abbas yang turun-temurun mewariskan kekhalifahan. Istilah “muslim bila kaif” telah menjadi lazim.
Hidupnya keturunan Sayidatina Fatmah Al-Zahra dicurigai, tiada bebas dan senantiasa terancam, ini oleh karena pengaruhnya anak cucu dari Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. atas rakyat sangat besar dan diseganinya. Keinginan kebanyakan orang Muslim adalah seorang keturunan Nabi yang seharusnya memegang kekhalifahan. Banyak yang dipenjarakan dan dibunuhnya oleh karenanya banyak pula yang pindah dan menjalankan diri dan pusat Bani Abbas di Bahdad,
AHMAD BIN ISA al-Muhajir r.a.
Dalam keadaan sebagai diuraikan di atas, yang pasti akan dikutuk Allah s.w.t. dan dengan hendak memelihara keturunannya dari kesesatan, mengulangilah AHMAD BIN ISA BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN AL-HUSEYN r.a. duanya sayidina Ibrahim a.s. yang tersurat dalam Al-Qur’an surat 14 ayat 37 dan dipilihnya Hadramaut yang bertetanaman, untuk menetap dan berhijrahlah beliau dari Basrah ke Hadramaut, dimana beliau wafat di Hasisah pada tahun 345 H.
ALWI BIN UBAIDILLAH ra
ALAWIYIN Keturunan dari AHMAD BIN ISA tadi yang menetap di Hadramaut dinamakan ALAWIYIN ini dari nama cucunya AL-WI BIN UBAIDILLAH BIN AHMAD BIN ISA yang dimakamkan di Sumul.
Keturunan sayidina Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. disebut juga ALAWIYIN dari sayidina Ali bin Abi-Talib k.w, Keluarga Al-Anqawi, Al-Musa-Alkazimi, Al-Qadiri dan Al-Qudsi yang terdapat sedikit di Indonesia adalah Alawiyin, tapi bukan dari Alwi bin Ubaidillah.
MUHAMMAD AL-FAQIH AL-MUQADDAM.
Luput dari serbuan Hulaku, saudara maharaja Cina, yang mentamatkan kekhalifahan Bani Abbas (1257 M), yang memang telah dikhawatirkan oleh AHMAD BIN ISA akan kutukan Allah s.w.t, maka di Hadramaut Alawiyin menghadapi kenyataan berlakunya undang-undang kesukuan yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan kenyataan bahwa penduduk Hadramaut adalah Abadhiyun yang sangat membenci sayidina Ali bin Abi-Talib r.a. Ini ternyata pula hingga kini dari istilah-istilah dalam loghat orang Hadramaut. Dalam menjalankan “tugas suci”, ialah pusaka yang diwariskannya, banyak dari pada suku Alawiyin tiada segan mendiami di lembah yang tandus.
Tugas suci itu terdiri dari mengadakan tabligh-tabligh, perpustakaan-perpustakaan, pesantren-pesantren (rubat) dan masjid-masjid.
Alawiyin yang semuala bermazhab “Ahli-Bait” mulai memperoleh sukses dalam menghadapi Abadhiyun itu setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam BIN ALI BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN ALWI BIN MUHAMMAD BIN ALWI BIN UBAIDILLAH melaksanakan suatu kompromis dengan memilih mazhab Muhammad bin Idris Al-Syafi-I Al-Quraisyi, ialah yang kemudian disebut mazhab Sayfi-I, Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam ini wafat di Tarim pada tahun 653 H.
TUGAS SUCI (ISLAMISASI)
Alawiyin dalam menyebarkan agama Islam menyeberang ke Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand (Siam), Indonesia Tiongkok (Cina), Filipina, dsb.
B. ALAWIYIN DI INDONESIA SEBELUM DIJAJAH BELANDA
Sebelumnya orang Barat datang, maka berkembanglah agama Islam dengan baik sekali dan terbentuklah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Runtuhnya Kerajaan Islam di semenanjung Iberia dalam abad ke VI M. dengan jatuhnya Al-Andalus (1492 M), mengakibatkan pengerjaan bangsa Spanyol terhadap Muslimin, pengejaran mana diberkati Paus Roma. Jika kehendak orang Spanyol menyeranikan, maka kehendak orang Portugis ialah berniaga dengan orang Muslim di Indonesia, dan oleh karena ini orang Portugis ialah memperoleh sukses.
Sebab peperangan di Europa antara Spanyol sepihak dengan masing-masing Belanda dan Inggris, maka kedua bangsa ini turut juga datang ke Indonesia ditentang oleh kaum Muslimin di tanah air kita.
c. ALAWAYIN DI INDONESIA DI MASA JAJAHAN BELANDA
Dengan pelbagai tipu muslihat dan fitnah akhirnya Belanda disokong oleh negara-negara Barat lain, dapat menguasai Indonesia dan ekonomi Belanda mulai berkembang pesat sesudahnya dapat dipergunakan kapal uap.
Alawiyin dari pada awalnya jajahan Belanda mulai merasakan rupa-rupa kesulitan, oleh karena Belanda melihat bahwa Alawiyin-lah yang dalam segala lapangan menjadi pelopornya, baik di medan perang maupun dalam bidang pengangkutan barang-barang lewat lautan atau bidang kebudayaan (agama).
Dilarangnya Alawiyin menetap di pedalaman pulau Jawa, dilarangnya berkeluarga dengan anggota istana (yang memang keturunan Alawiyin), hingga yang tiada mampu pindah ke perkampungan tertentu di bandar-bandar di tepi laut, atau karena sebab lain, mengambil nama keluarga Jawa agar dianggapnya orang Jawa asli, pribumi. Oleh karenanya pindahanya Alawiyin dari pedalaman ke bandar-bandar di pinggir laut, maka pula pusat ke-Islaman pindah ke utara seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, dst.
Yang tidak dapat berpindah dari pedalaman menetap di perkampungan-perkampungan yang disebut “kaum” Suku-suku Alawiyin yang telah anak-beranak dan tiada mampu pindah ke kota-kota besar dan mengambil nama ningrat Jawa, ialah banyak dari pada Al-Basyiban, Al-Baabud, Al-Binyahya, Al-Aydrus, Al-Fad’aq dan lain-lain lagi. Dalam keadaan yang demikian itu, Belanda baru mulai berusaha menyeranikan Jawa Tengah, dimana Islam tiada dapat berkembang oleh karena peperangan-peperangan melawan Belanda dan berhasilnya aneka fitnah yang Belanda ciptakan antara penguasa-penguasa pribumi sendiri.
Anak Muslim tiada boleh bersekolah, sedangkan anak Kristen dapat pendidikan dan pelajaran modern. Kemudian di-izinkan bersekolah Belanda anak-anak orang yang berpangkat pada pemerintah jajahan, dan diharuskan mereka tinggal (yakni in de kost) pada pejabat Belanda. Katanya agar, dapat lancar berbicara bahasa Belanda dan mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberi dalam bahasa itu; sebetulnya untuk menjadikan kanak-kanak itu berfikir dan hidup secara orang Belanda, dan untuk mengasingkan mereka dari bangsawan sendiri, dari adat-istiadat dan agamanya. Anak rakyat biasa, awam, mengaji, baik pada madrasah-madrasah Alawiyin atau pesantren-pesantren.
Hubungan Alawiyin dengan para kiyahi erat sekali. Untuk melumpuhkan berkembangnya agama islam di antara anak-anak rakyat jelata, Belanda mengadakan sekolah-sekolah Hollands Inlandse School (H.I.S) dengan syarat bahwa murid tiada boleh bersaring dan berkopya-pici, harus mengenakan celana pendek sampai atas lutut, pakaian mana bukan kebiasaan orang yang mendirikan salat.
Jangan sampai kanak-kanak dapat membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab agama Islam yang tertulis dengan huruf Arab, Belnda mengajar dengan sungguh menulis dengan huruf lain, dan mengadakan buku-buku yang menarik, dalam huruf ini, untuk maksud mana dibentuknya Balai Perpustakaan. Banyak buku-buku yang dikarang oleh pendeta dan padri indolog dan orientalis, mengandung racun bagi anak murid yang pengetahuannya tentang Islam dan tarikhnya masih sangat Dangkal.
Alawiyin menolak tawaran Belanda untuk membangun Hollands-Arabise School (H.A.S, dan menolak pula subsidi dari pemerintah jajahan bagi madrasah-madrasahnya, karena curiga dan takut dri tipu muslihat dan pengaruh Belanda yang berniat merusak agama Islam.
Alawiyin tiada dibolehkan menidirkan cabang-cabang mandrasah di kota-kota besar dengan nama yang sama, oleh karena itu nama-nama madrasah yang sama skala pendidikannya, berlainan namanya. Para guru dari negara Islam didatangkan untuk mengajar di madrasah-madrasah, dan kanak-kanak yang berbakat dikirim lanjutkan pelajarannya ke Hadramaut, Hejaz, Istanbul, Kairo dan lain-lain.
Disamping perguruan, Alawiyin aktif juga di lapangan politik hingga beberapa orang ditangkap dan dipenjarakan. Melawan Belanda antara mana di Aceh, dan sesudah Aceh ditaklukannya, Muslimin hendak mengadakan pemberontakan disana dengan mengibarkan bendera Khalifah Muslimin. Alawiyin hendak menerbitkan pemberontakan di Singapura di kalangan tertentu Muslimin India yang Inggeris hendak berangkatkan untuk berperang di iraq (Perang Dunia I). Perlu juga diketahui bahwa Alawiyin senantiasa berhubungan dengan Muslimin di luar negeri, orang-orang yang terkemuka dan berpengaruh, teristimewa dengan Padisyah, Khalifatul Muslimin, di Istanbul, yang atas aduan Alawiyin pernah mengirim utusan rahasia untuk menyelidiki keadaan-keadaan Muslimin di Indonesia.
d. ALAWIYIN DI INDONESIA DI MASA PENDUDUKAN MILITER JEPANG
Pendudukan militer Jepang menindas dan mematikan segala kegiatan Alawiyin, terutama dalam bidang politik, peguruan tabligh, pemeliharaan orang miskin dan anak yatim.
Perpustakaan yang tidak dapat dinilai harganya di-angkat Jepang, entah kemana. Semua kibat ada capnya dari Al-Rabitah Al-alawiyah yang berpengurus-besar hingga kini di Jalan Mas Mansyur (dahulu jalan Karet) No. 17 Jakarta Pusat (II/24).
e. ALAWIYIN DI INDONESIA SETELAH MERDEKA
Pemuda Alawiyin turut giat melawan Inggeris dan Belanda (Nica), bergerilya di pegunungan. SEMUA PEMUDA ALAWIYIN ADALAH WARGANEGARA INDONESIA dan masuk berbagai partai Islam. Dalam lapangan ekonomi mereka sangat lemah hingga kini belum dapat merebut kembali kedudukannya seperti sebelumnya pecah perang dunia ke-dua dengan lain kata, jika Alawiyin sebelumnya Perang Dunia ke II dapat membentuk badan-badan sosial seperti gedung-gedung madrasah, rumah yatim piatu, masjid-masjid dan membayar guru-guru yang cakap, maka sekarang ini dengan susah payah mereka membiayai pemeliharaannya dan tidak dapat lagi memberi tenaga guru-guru sepandai dan seacakap yang dahulu, meskipun kesempatan kiniadalah lebih baik dari dan pertolongan pemerintah ala qadarnya. Kegiatan yang tersebar sampai di pelosok-pelosok kepualauan Indonesia.
Alawiyin yang lebih dikenal dengan sebutan sayid, habib, ayib dan sebagainya tetap dicinta dimana-mana dan memegang peranan rohani yang tidak dapat dibuat-buat sebagaimana juga di negara islam lain. Kebiasaan dan tradisi Alawiyin di-ikuti dalam Perayaan maulid Nabi, haul, nikah, upacara-upacara kematian dan sebagainya.
Suku-suku Alawiyin di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 50.000 orang; ada banyak yang besar, antara mana Al-Saggaf, Al-Attas, Al-Syihab, Al-Habasyi, Al-Aydrus, Al-Kaf, Al-Jufri, Al-Haddad dan semua keturunan asal-usul ini dicatat dan dipelihara pada Al-Maktab Al-Da-imi yaitu kantor tetap untuk statistik dan pemeliharaan nasab sadatul-alawiyin yang berpusat di gedung “Darul Aitam”, “Robithoh Alawiyyah”.
[Sejarah Alawiyyin, Sejarah Para Habib Alawiyyin, Habaib Di Indonesia, Disarikan dari berbagai sumber.]
Langganan:
Postingan (Atom)






